Generasi Z Mengungkap Fenomena Soft Resign di 2026

Banyak orang mengira Gen Z malas kerja. Padahal yang terjadi di 2026 justru sebaliknya: mereka capek, tapi tetap kerja. Fenomena ini dikenal sebagai soft resign — bukan resign beneran, tapi menarik diri secara mental dari pekerjaan. Tanpa drama. Tanpa surat pengunduran diri. Tanpa konflik terbuka. Fenomena soft resign di 2026 menjadi isu penting yang perlu dipahami oleh para pemimpin perusahaan.

Apa Itu Soft Resign?

Soft resign adalah kondisi ketika seseorang:

    • Tetap datang kerja

    • Tetap menyelesaikan tugas

    • Tapi tanpa ambisi berlebih, tanpa keterikatan emosional

Kerja sekadar “cukup”, bukan “maksimal”.

Di 2026, pola ini paling banyak muncul di Generasi Z.

Kenapa Fenomena Ini Muncul di 2026?

1. Realita Kerja Tidak Seindah Ekspektasi

Gen Z tumbuh dengan janji:

      • kerja fleksibel

      • work-life balance

      • karier cepat naik

Namun yang ditemui:

      • target terus naik

      • gaji stagnan

      • tekanan makin halus tapi konsisten

Bukan kaget. Tapi lelah.

2. Kerja Keras Tidak Selalu Berbanding Lurus

Banyak Gen Z melihat contoh nyata:

      • kerja ekstra → tidak selalu dihargai

      • loyal → belum tentu aman

Akhirnya muncul pola pikir:

“Ngapain ngasih 100% kalau hasilnya sama?”

3. Burnout yang Dianggap Normal

Capek mental sekarang sering dianggap:

    • wajar

    • fase

    • bagian dari proses

Padahal, burnout yang dipelihara lama-lama berubah jadi mati rasa kerja.

 

Soft Resign Bukan Malas

Ini penting.

Soft resign ≠ malas.
Ini lebih ke mekanisme bertahan.

Gen Z memilih:

  • menjaga energi

  • membatasi ekspektasi

  • memisahkan hidup dan pekerjaan

Bukan karena nggak peduli, tapi karena nggak mau hancur pelan-pelan.

Dampaknya ke Dunia Kerja

Apakah Soft Resign Akan Terus Ada?

Kemungkinan besar: iya.

Selama:

      • beban kerja naik

      • daya beli melemah

      • keamanan kerja tidak jelas

Soft resign akan jadi respons alami, bukan tren sesaat.

Penutup

Di 2026, masalah Gen Z bukan soal malas atau rajin.
Masalahnya adalah lelah tanpa kepastian.

Soft resign bukan pemberontakan.
Bukan juga kemunduran.

Ia cuma tanda bahwa cara lama bekerja sudah tidak sepenuhnya relevan.